Pages

Tuesday, May 15, 2012

Jogja Remang - Remang



Suatu ketika aku mengeluh tentang keberadaanku, aku ini orang biasa yang melakukan hal yang sedemikian biasa manusia lakukan. Hidupku sangat "flat" , yang kulakukan kuanggap buang-buang waktu menuju sisa hidup yang entah ujungnya. Jogja menjelang malam sangat sering ku nikmati setiap harinya, sama, tidak ada yang berubah tetap dengan langit yang ungu kelabu dengan sinar keemasan dari mentari yang ingin bergantian jaga dengan bulan dan bintang. 
            Mengendarai kuda besi, rutin ku lakukan ketika esok hingga malam semata-mata untuk memuaskan nafsu orangtua ku yang ingin merubah taraf hidup anak pertama mereka. Menuntut ilmu kadang membuat ku jenuh, Tak sering aku menuntut diriku karena beban hidupku saat ini .  

Ketika kuda besiku diberhentikan oleh warna merah yang di pancarkan dari seonggok tiang di tiap perempatan atau pertigaan jalan, kepalaku menoleh ke samping kanan . Tadinya biasa, tapi disaat bis kota yang menghalangi pandanganku pergi meninggalkan kepulan asap kehitaman aku melihat sosok siluet yang terpancar dari cahaya lampu jalan yang remang-remang . Semakin lama semakin jelas , 3 sosok pria tunanetra membawa alat musik serta tongkat, saling memegang pundak temannya mengikuti arahan wanita tua yang menggendong lapak rokok keliling. Mereka bercanda, mereka tertawa.

Sungguh membuat hatiku miris pada diri sendiri.  Masih ada di dunia luar sana yang belum aku pelajari. Tentang mengapa keterbatasan pada seseorang tidak menjadi batu besar dalam hidupnya.  Kita dapat melakukan apapun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih mempunyai kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan.
 Aku ingin lebih banyak belajar tentang kehidupan. Aku ingin belajar dengan orang-orang hebat seperti mereka. Dan hal-hal yang luar biasa diluar sana jadikan sebagai refleksi hidup. 


1 comment:

 
Copyright 2012 Likes a Rockcorn !. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates